StatTrack
free web hosting | free hosting | Business Hosting | Free Website Submission | shopping cart | php hosting
  
   
 
IDEALIS MAHASISWA
 

Halaman Utama | InfoSiswa | Arkib | Perbincangan| Halaman Undian| Halaman Tetamu

    Thursday, March 21, 2002 9:22 PM

MENGUJI KESABARAN GERAKAN MAHASISWA INDONESIA


Oleh : Aditya Perdana*

Mengikuti perkembangan gerakan mahasiswa pada tahun 2001 ini, bagi saya sebuah kenikmatan intelektual untuk sekedar melihat dan sedikit menganalisa dari berbagai ilmu yang telah saya dapat di bangku kuliah. Ditambah pula, saya ikut merasakan beratnya aksi-aksi yang dibawa mahasiswa kali ini. Berawal dari tuntutan mahasiswa agar DPR tidak takut mengusut keterlibatan presiden dalam kasus Bulogate hingga kini terakhir usaha mempercepat Sidang Istimewa MPR yang belum dapat dipenuhi MPR karena berbagai alasannya. Sementara, di sisi-sisi pergerakan itu banyak kerikil-kerikil yang menambah nuansa jalannya proses partisipasi politik ini, seperti baru disadari dampak adanya kekerasan dari berbagai demo dibawa elemen mahasiswa dan rakyat seperti berakibat kerusuhan di Jawa Timur, perpecahan di gerakan mahasiswa sendiri, atau perang pernyataan dari berbagai elite politik untuk bertarung pula di arena baru bernama konflik eksekutif versus legislatif. Kompleksitas permasalahan yang diidap gerakan massa sekarang menjadi beban tersendiri bagi tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Pertanyaannya adalah seberapa sabarnya gerakan mahasiswa saat ini mengingat tipikal mahasiswa yang selalu idealis dan penuh gejolak muda tetapi banyak halangan dan rintangan di depannya untuk setidaknya memberi penyadaran publik akan nasib bangsa ini yang masih belum bangun dari krisisnya ?

Sesungguhnya tulisan ini terinspirasi oleh kolom yang ditulis --dosen saya yang telah "menghilang" dan berguru dinegeri orang-Eep Saefulloh Fatah dalam resonansi Republika (21/3), yang telah memberi jawaban dari segala kebimbangan dan kegamangan pikiran saya melihat kompleksnya dan runyamnya gerakan massa, khususnya mahasiswa untuk memberi satu tujuan jelas usaha menurunkan Gus Dur karena ketidakmampuannya lagi memimpin negeri ini. Ternyata jawaban itu sederhana : politik sabar. Bagi Eep, gerakan menurunkan Gus Dur adalah gerakan yang sebetulnya masuk akal tapi sayangnya tergopoh-gopoh. Ketakutan Eep ditunjukkan oleh maraknya gerakan ekstraparlementer yang memaksakan SI MPR dipercepat, akan menjadi preseden buruk yang akan diikuti oleh massa fanatik Gus Dur untuk menurunkan siapa saja. Tapi ada satu jawaban yang saya pikir terlewatkan banyak orang terutama elite-elite politik atau bahkan elite-elite mahasiswa yaitu kesabaran untuk bermain dalam tahap yang konstitusional. Bukan hanya itu saja, jauh sebelumnya Eep telah mengatakan dalam sebuah Orasi Politiknya di Galeri Nasional tanggal 20 Agustus 20001 , menjatuhkan Gus Dur adalah makruh-tingkatan hukum Islam-yang akan mendatangkan banyak persoalan baru tanpa kepastian pemecahan soal-soal lain. Sehingga, bagi saya ada beberapa hal yang sepakat dan tidak sepakat dengan dosen saya ini, menimbang perjalanan Gus Dur yang telah memerintah hampir dua tahun tanpa perubahan mendasar sekalipun.

Pertama, gerakan mahasiswa sekarang bukanlah tanpa perhitungan dalam menilai kinerja Gus Dur yang semakin lama semakintidak jelas arahnya. Berbagai aktifitas yang dilakukan oleh BEM UI-untuk sekedar melihat satu kelompok saja-telah lama melakukan penilaian kritis terhadap pemerintahan Gus Dur. Berbagai aksi untuk menyadarkan pemerintah dalam rangka penegakan supremasi hukum, mengingatkan ancaman disintegrasi bangsa, atau bentuk seminar melihat kinerja presiden pun dilakukan dalam kacamata para pemuda, refleksi akhir tahun yang menjadi titik tolak mengkritisi Gus Dur, dan pemberian Suharto Award II kepada Gus Dur akibat ia masih mengidap penyakit yang dibawa Orde Baru. Peringatan kepada DPR pun sering dilakukan terutama tindak-tanduk anggota DPR yang sering "berdagang sapi", bahkan amandemen UUD menjadi perhatian utama ketika ST MPR lalu. Jadi, bagi saya gerakan mahasiswa bukanlah tergopoh-gopoh tanpa sistematis, tetapi punya parameter jelas dalam tindakan khususnya usaha menurunkan Gus Dur karena terbukti pemerintahan ini sudah tidak efisien dalam rangka menyelematkan reformasi.

Tetapi, benar ketika mahasiswa terjebak oleh paradigma "ketidaksabaran" yang telah membudaya sejak zaman Orde baru lalu menambah banyak persoalan baru dalam pergerakan sekarang. Ingin cepat menuntaskan masalah terutama meminta Gus Dur mundur, ingin cepat hasilnya dalam tuntutan kasus Bulogate dan percepatan SI MPR, atau "membongkar paksa" kekuasaan yang dipegang Gus Dur karena KKN-nya adalah segelintir persoalan yang dialami gerakan mahasiswa sekarang. Bahkan bukan hanya itu saja, perbedaan dalam visi yang dibawa mahasiswa hingga terjadinya beberapa kali bentrokan menambah daftar panjang lemahnya suatu kekuatan gerakan massa yang bernama mahasiswa. Karena saya juga meyakini, upaya mengadu domba ---yang telah dilakukan Orde Baru - menjadi alat yang ampuh untuk melemahkan gerakan massa secara sistematis dan terencana. Dan jawaban ini adalah saya sepakat untuk mengatakan: gusurlah mentalitas orde baru.

Kedua, usaha menurunkan Gus Dur telah mengalami tingkat yang lebih tinggi daripada makruh yaitu sunnah, menurut definisi Eep, sangat dianjurkan bila korban kemanusiaan semakin besar jumlah dan kualitasnya sementara arah transisi tak juga jelas. Kondisi belakangan ini menambah derita panjang negeri ini terutama para pengungsi akibat rentetan kerusuhan etnis yang tidak terselesaikan. Setelah Ambon, Poso berlanjut ke Sampit, Palangkaraya dan terakhir Kualakapuas. Kalaupun Gus Dur pernah mengatakan daerah-daerah akan memisahkan diri jika ia mundur dari jabatannya adalah logika terbalik yang semestinya disadari olehnya bahwa kondisi saat ini sangatlah urgent untuk segera dicarikan solusi terbaiknya, bukanlah mementingkan jabatannya dengan mempertaruhkan daerah-daerah yang sedang berteriak merdeka. Sementara, transisi demokrasi tidaklah semulus yang dibayangkan bila Gus Dur naik, melainkan masih kuatnya primordialisme dan patron-klien yang dibawa oleh kalangan pesantren direpresentasikan Gus Dur dalam kapasitasnya sebagai kepala negara. Sehingga, berbagai ancaman demokrasi yang ditunjukkan maraknya aksi vandalism, anarkhisme, terorism menjadi ujian tersendiri bagi tegaknya demokrasi di negeri ini. Dan akhirnya jelas, Gus Dur memang sangat dianjurkan mundur atau diturunkan secara konstitusional dari jabatannya bila tidak ingin menambah panjangnya daftar korban kemanusiaan.

Mengenai kesabaran gerakan massa terutama mahasiswa , menurut hemat saya, gerakan mahasiswa yang menginginkan Gus Dur mundur haruslah lebih arif, bijaksana, tidak terpancing kekerasan, dan jitu strateginya dalam arah pergerakan serta yang terpenting usaha menjalin rekonsiliasi di kalangan mahasiswa harus terjadi. Dan saya sepakat untuk berkata : mahasiswa pun mesti sabar dalam memastikan arah pergerakan. Setidaknya saat ini saya ingin melihat kesabaran mahasiswa dapat teruji lewat parameter sederhana saya bila saja : (1) mahasiswa mampu mengikuti jalannya mekanisme memorandum yang telah disepakati menuju SI MPR dengan mengawasi tingkah polah anggota dewan yang masih bermental Orde Baru akan negosiasi dan kompromi politik yang menguntungkan segelintir pihak saja, bukan lebih memikirkan nasib rakyat. (2) gerakan mahasiswa harus mampu mematangkan wacana aksi dalam berbagai bentuk diskusi terbuka dengan masyarakat sekalipun, serta terpenting mematangkan dan mensosialisasikan agenda aksi berikutnya kepada seluruh mahasiswa dan masyarakat untuk lebih mendapatkan dukungan riil akan gerakan massanya tersebut. Ditambah pula agenda rekonsiliasi mahasiswa mesti dilakukan untuk kembali menyatukan visi perjuangan bersama agar mahasiswa mampu menghindar dari adu domba aktor politik. (3) dan terakhir mahasiswa harus pula mampu membalikkan opini di seluruh tataran wacana umum bahwa perpecahan mahasiswa tidaklah luput daripada perpecahan elite politik yang ingin mencari kekuasaan. Hal ini perlu dilakukan sebagai upaya melepaskan diri dari kebelengguan politik mahasiswa sebagai penggerak moral tanpa ada intervensi dan kepentingan partai politik manapun juga.

Menyadari hal itu, sebenarnya saya telah terenyuh akan kebenaran yang sesungguhnya karena hingga hari ini, gerakan mahasiswa seakan berjalan cepat, taktis, penuh perhitungan, untuk tidak mau terjebak dalam konflik horizontal dengan para demonstran, konflik elite yang diuntungkan dengan adanya gerakan menjatuhkan Gus Dur, tetapi telah melupakan kesabaran. Yang artinya mahasiswa harus mau mengevaluasi kembali arah pergerakan, dan mau menjadi orang-orang yang sabar mengikuti proses yang berlangsung-walau dalam bentuk tarik-ulur kepentingan dan tuntutan-tetapi yang utama adalah memberi sedikit wacana kepada masyarakat bahwa memang kita harus bersabar, meskipun krisis ekonomi sudah melilit di leher. Hal ini dilakukan untuk menyelamatkan proses transisi demokrasi yang sedang kita jalankan jika tidak ingin kembali ke sistem yang otoriterian. Dan mahasiswa pun harus kembali menunjukkan keeksisannya untuk berdiri di depan. Karena sesungguhnya anda, kita, kami, atau siapapun yang ingin bersabar adalah orang-orang yang ingin menggusur mentalitas Orde Baru dengan ketidaksabarannya.

Bagi saya, gerakan mahasiswa bukanlah sekedar cowboy Shane yang dilukiskan Arie Budiman (Sanit : 1999)2 yang pergi begitu saja ketika penjahat telah ditangkap, tetapi lebih dari itu, gerakan mahasiswa seperti Robin Hood yang sedang mengawasi kerajaan yang zalim dengan perampokan pajaknya setiap saat dan setiap waktu, bersimpati kepada rakyat kecil sambil menyusun strategi di setiap luang waktunya, dan melakukan perlawanan dan kritikan tajam kepada pemerintah sambil menunggu sang Raja bernama Demokrasi yang sedang dalam perjalanan pulang. Tegalalur, March 26, 2001

* Aditya Perdana mahasiswa FISIP UI jur. Ilmu Politik angkatan 1999, aktivis Lingkar Studi Dialektika FISIP UI.

1 Orasi politik yang berjudul "Menimbang Gus Dur, Menimbang Demokrasi."

2Arbi Sanit, Pergolakan Melawan Kekuasaan, 1999.


Halaman Utama

 

Copyright 2001 Idealis Mahasiswa, All Rights Reserved